Risiko Kerugian Tinggi Tanpa Menggunakan Jasa Freight Forwarder
Dalam era globalisasi, pengiriman barang antar negara
menjadi bagian penting dari bisnis. Freight forwarder, atau perusahaan yang
mengatur logistik pengiriman, sering kali dianggap sebagai "penengah"
yang memudahkan proses ini. Namun, banyak pihak memilih untuk melewatkan jasa
mereka demi menghemat biaya. Sayangnya, pilihan ini bisa membawa risiko
kerugian tinggi. Artikel ini membahas risiko-risiko utama yang mungkin timbul
jika Anda menangani pengiriman sendiri, tanpa bantuan forwarder.
Apa Itu Freight Forwarder dan Mengapa Penting?
Sebelum membahas risiko, mari kita pahami peran freight
forwarder. Freight forwarder adalah perusahaan yang bertugas mengatur
transportasi barang dari pengirim ke penerima. Mereka menangani aspek seperti
dokumen impor-ekspor, bea cukai, pemilihan moda transportasi (udara, laut,
darat), dan bahkan asuransi. Dengan pengalaman dan jaringan luas, forwarder
dapat meminimalkan masalah yang sering muncul dalam pengiriman internasional.
Tanpa forwarder, Anda harus mengelola semua ini secara
mandiri. Meskipun tampak menghemat uang, hal ini bisa meningkatkan risiko
kerugian finansial, waktu, dan reputasi bisnis. Berikut adalah risiko utama
yang perlu diwaspadai.
1. Risiko Kesalahan Dokumen dan Masalah Hukum
Salah satu tugas utama forwarder adalah memastikan dokumen
pengiriman lengkap dan sesuai aturan internasional, seperti Bill of Lading,
Invoice, dan Sertifikat Asal. Tanpa bantuan mereka, Anda berisiko membuat
kesalahan sederhana yang berakibat fatal.
- Contoh
Risiko: Jika dokumen tidak akurat, barang Anda bisa ditahan di
pelabuhan atau bandara oleh otoritas bea cukai. Di Indonesia, misalnya,
hal ini bisa menyebabkan denda hingga ratusan juta rupiah atau bahkan
kehilangan barang secara permanen. Menurut data dari World Trade
Organization (WTO), sekitar 20-30% masalah pengiriman internasional
berasal dari dokumen yang salah.
- Kerugian
Tinggi: Bukan hanya biaya denda, tapi juga waktu yang terbuang.
Bayangkan bisnis Anda kehilangan pelanggan karena keterlambatan pengiriman
yang disebabkan oleh ini.
2. Risiko Keterlambatan Pengiriman
Pengiriman internasional melibatkan banyak pihak, seperti
maskapai, kapal cargo, dan agen di negara tujuan. Tanpa forwarder, Anda harus
bernegosiasi sendiri dengan penyedia layanan, yang bisa memakan waktu dan
meningkatkan kemungkinan keterlambatan.
- Contoh
Risiko: Jika Anda memilih moda transportasi yang tidak tepat
(misalnya, mengirim barang mudah rusak melalui laut daripada udara),
barang bisa tiba terlambat atau rusak. Di tengah pandemi seperti COVID-19,
keterlambatan ini semakin umum karena gangguan rantai pasok global.
- Kerugian
Tinggi: Bagi bisnis e-commerce atau manufaktur, keterlambatan bisa
berarti kehilangan pendapatan. Menurut survei oleh DHL, keterlambatan
pengiriman bisa menyebabkan kerugian hingga 10-20% dari nilai barang,
belum lagi dampak pada reputasi.
3. Risiko Keuangan dan Biaya Tersembunyi
Banyak orang mengira tidak menggunakan forwarder akan
menghemat uang, tapi sebenarnya, biaya bisa membengkak karena kurangnya
negosiasi dan pengetahuan.
- Contoh
Risiko: Tanpa forwarder, Anda mungkin membayar tarif pengiriman yang
lebih tinggi karena tidak memiliki akses ke diskon atau kontrak eksklusif.
Selain itu, jika ada masalah seperti barang hilang atau rusak, Anda harus
menanggung biaya klaim asuransi sendiri—dan seringkali, asuransi yang Anda
beli tidak mencakup semua risiko.
- Kerugian
Tinggi: Risiko ini bisa mencapai jutaan rupiah. Sebuah laporan dari
International Chamber of Commerce (ICC) menunjukkan bahwa bisnis kecil
yang menangani pengiriman sendiri mengalami kerugian rata-rata 15-25%
lebih tinggi dibandingkan yang menggunakan forwarder.
4. Risiko Kerusakan atau Kehilangan Barang
Pengiriman internasional rentan terhadap faktor eksternal
seperti cuaca buruk, pencurian, atau kesalahan penanganan. Forwarder biasanya
memiliki jaringan untuk memantau barang dan mengasuransikannya dengan baik.
- Contoh
Risiko: Jika Anda mengirim barang berharga tanpa forwarder,
kemungkinan besar Anda tidak akan mendapatkan perlindungan maksimal. Di
Asia Pasifik, misalnya, kasus kehilangan barang di laut mencapai 5-10%
dari total pengiriman, menurut data dari International Maritime
Organization (IMO).
- Kerugian
Tinggi: Selain nilai barang yang hilang, Anda juga harus menghadapi
biaya hukum untuk mengajukan klaim, yang bisa memakan waktu
berbulan-bulan.
5. Risiko yang Meningkat di Era Digital dan Global
Dengan semakin kompleksnya perdagangan global, risiko tanpa
forwarder semakin tinggi. Misalnya, peraturan baru seperti aturan lingkungan
(misalnya, karbon footprint) atau sanksi perdagangan bisa membuat pengiriman
Anda terhambat jika tidak ditangani oleh ahli.
- Contoh
Risiko: Di Indonesia, dengan semakin ketatnya regulasi dari
Kementerian Perdagangan, bisnis yang tidak mematuhi bisa dikenakan sanksi.
Tanpa forwarder yang memahami aturan ini, Anda berisiko kehilangan akses
ke pasar internasional.
Apakah Worth It?
Meskipun tidak menggunakan jasa forwarder mungkin tampak
sebagai cara menghemat biaya awal, risiko kerugian tinggi yang ditimbulkannya
sering kali lebih besar. Bagi bisnis kecil atau individu, pilihan ini bisa
berujung pada kerugian finansial, operasional, dan reputasi yang signifikan.
Sebagai saran, pertimbangkan untuk menggunakan forwarder terpercaya, terutama
untuk pengiriman besar atau internasional, untuk meminimalkan risiko.
Jika Anda sedang merencanakan pengiriman, lakukan konsultasi
terlebih dahulu dengan ahli logistik. Ingat, mencegah kerugian lebih murah
daripada memperbaikinya.
